Jadi Pemateri Adobe Premiere Itu Ternyata Seru Juga

Pengalaman Pertama Menjadi Pemateri Pelatihan Adobe Premiere untuk Pemula
Kalau dipikir-pikir, saya sebenarnya nggak pernah membayangkan bakal berada di posisi menjadi pemateri pelatihan editing video.
Biasanya saya lebih sering menghabiskan waktu di depan timeline, menyusun potongan video, menghadapi revisi klien, mengatur audio, atau menghabiskan malam untuk mencari warna yang pas saat proses color grading. Aktivitas yang cenderung dilakukan sendirian dan jarang harus dijelaskan ke orang lain.

Karena itu, ketika mendapatkan kesempatan untuk menjadi pemateri dalam kegiatan “Mastering Adobe Premiere: Dasar-Dasar Editing untuk Pemula”, reaksi pertama saya justru bukan percaya diri.
Tapi bingung.
"Emang saya bisa ngajarin editing ke orang lain ya?" 😅
Terkadang, sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan sehari-hari justru sulit dijelaskan kembali dari awal. Apalagi ketika peserta yang mengikuti pelatihan sebagian besar masih berada di tahap pemula.
Ada yang baru pertama kali membuka Adobe Premiere Pro. Ada yang masih bingung membedakan timeline dan sequence. Bahkan ada yang benar-benar belum pernah melakukan proses editing video sebelumnya.
Dan di situlah tantangannya dimulai.
Belajar Editing dari Dasar
Pelatihan ini dilaksanakan secara daring melalui Zoom selama dua hari. Meskipun dilakukan secara online, antusiasme peserta cukup tinggi dan suasananya terasa interaktif. Hal yang paling saya sukai bukanlah jumlah pesertanya, melainkan rasa ingin tahu yang mereka tunjukkan selama pelatihan berlangsung.
Banyak pertanyaan sederhana yang sebenarnya sangat relevan bagi editor pemula.
Mulai dari:
Kenapa video terasa patah-patah saat diedit?
Kenapa proses export memakan waktu sangat lama?
Kenapa warna video berubah setelah dirender?
Bagaimana cara memilih musik yang cocok untuk sebuah video?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu justru membuat sesi diskusi menjadi lebih hidup. Karena saya tahu, hampir semua editor pernah mengalami kebingungan yang sama ketika pertama kali belajar.
Editing Bukan Sekadar Efek dan Transisi
Pada sesi materi, saya sengaja tidak langsung membahas teknik yang terlalu rumit. Menurut saya, banyak pemula terlalu fokus pada efek visual, preset, atau transisi yang terlihat keren, padahal fondasi editing berada di tempat yang berbeda. Saya mencoba menjelaskan bahwa editing pada dasarnya adalah tentang bagaimana menyusun visual agar nyaman ditonton dan mampu menyampaikan cerita. Karena jika dipikirkan lebih jauh, editing sebenarnya lebih dekat dengan storytelling dibandingkan sekadar menjalankan software.
Software hanyalah alat.
Yang menentukan apakah sebuah video terasa menarik atau tidak adalah keputusan-keputusan kecil yang dibuat editor selama proses penyuntingan.
Mulai dari kapan sebuah shot dipotong, musik seperti apa yang dipilih, hingga bagaimana ritme video dibangun dari awal sampai akhir.
Membuat Suasana Belajar yang Santai
Saya juga berusaha membuat suasana pelatihan terasa lebih santai dan tidak terlalu formal.
Sesekali saya menyelipkan candaan agar peserta tidak merasa tegang.
Karena saya tahu persis bagaimana rasanya belajar software editing untuk pertama kali.
Jujur saja, tampilan Adobe Premiere Pro bisa terlihat cukup menyeramkan bagi pemula. Dengan berbagai panel, menu, tombol, dan pengaturan yang ada, tampilannya kadang lebih mirip cockpit pesawat dibanding aplikasi editing video 😭
Dan sering kali rasa takut itulah yang membuat seseorang enggan untuk mulai belajar.
Padahal, semua editor profesional juga pernah berada di posisi yang sama.
Momen yang Paling Berkesan
Salah satu bagian yang paling berkesan bagi saya terjadi pada sesi review tugas peserta di hari kedua.
Peserta diminta mencoba mengedit video sederhana menggunakan materi yang sudah dipelajari sebelumnya. Hasilnya cukup mengejutkan.
Beberapa peserta yang sebelumnya mengaku belum pernah mengedit video ternyata mampu menghasilkan karya yang cukup baik.
Ada yang sudah mulai memahami ritme pemotongan gambar, ada yang mulai memperhatikan pemilihan musik, bahkan ada yang mulai memahami bagaimana sebuah video bisa terasa lebih menarik hanya dengan pengaturan tempo yang tepat.
Di momen itu saya menyadari satu hal sederhana.
Terkadang seseorang tidak membutuhkan metode belajar yang rumit.
Mereka hanya membutuhkan lingkungan belajar yang membuat mereka merasa aman untuk mencoba dan melakukan kesalahan.
Fun Fact: Saya Sebenarnya Nervous Banget 😭
Meskipun terlihat santai selama sesi berlangsung, ada satu fakta yang mungkin tidak banyak diketahui peserta.
Saya sebenarnya cukup gugup sebelum pelatihan dimulai.
Bahkan bisa dibilang sangat gugup.
Ini merupakan salah satu pengalaman pertama saya menjadi pemateri dalam pelatihan yang membahas bidang yang selama ini saya tekuni.
Beberapa hari sebelum acara berlangsung, saya berkali-kali mencoba menyusun ulang materi dan alur penyampaian.
Saya berlatih menjelaskan proses editing yang biasanya saya lakukan secara otomatis setiap hari.
Dan ternyata itu tidak mudah.
Ketika sedang mengedit, saya biasanya hanya mengikuti insting dan pengalaman. Tetapi ketika harus menjelaskan proses tersebut kepada orang lain secara langkah demi langkah, saya baru sadar bahwa banyak hal yang selama ini saya lakukan ternyata sulit diterjemahkan menjadi materi pembelajaran.
Selain itu, ada juga rasa takut yang cukup wajar.
Takut penjelasannya membingungkan.
Takut peserta bosan.
Takut tiba-tiba ngeblank saat berbicara.
Dan karena pelatihannya dilakukan secara online, muncul ketakutan tambahan:
"Ini peserta masih fokus dengar saya atau sudah pindah buka TikTok ya?" 😭
Untungnya, kekhawatiran tersebut perlahan hilang ketika sesi mulai berjalan.
Diskusi yang aktif dan respons peserta yang positif membuat suasana menjadi jauh lebih nyaman dari yang saya bayangkan sebelumnya.
Belajar untuk Berbagi
Dari pengalaman ini, saya mendapatkan pelajaran yang cukup menarik.
Selama ini saya menganggap proses belajar hanya terjadi ketika kita menerima informasi dari orang lain. Namun ternyata, ketika mencoba mengajarkan sesuatu, kita juga belajar kembali memahami hal-hal yang selama ini kita lakukan.
Saya jadi lebih memahami proses kreatif saya sendiri.
Saya belajar bagaimana menjelaskan pengalaman, menyusun pengetahuan, dan menerjemahkan hal-hal yang sebelumnya hanya ada di kepala menjadi sesuatu yang dapat dipahami oleh orang lain.
Dan ternyata, proses itu jauh lebih menantang daripada yang terlihat.
Penutup
Menjadi pemateri dalam pelatihan Adobe Premiere ini merupakan pengalaman yang sangat berkesan bagi saya. Selain dapat berbagi pengalaman mengenai dunia editing video, saya juga belajar menghadapi rasa gugup, menyusun materi pembelajaran, dan berkomunikasi dengan peserta yang memiliki latar belakang kemampuan yang berbeda-beda. Yang paling penting, pengalaman ini mengingatkan saya bahwa ilmu kreatif tidak hanya menyenangkan ketika dipelajari sendiri, tetapi juga ketika dibagikan kepada orang lain.
Karena pada akhirnya, semua orang pernah menjadi pemula.
Dan mungkin, semua orang juga pernah merasakan gugup saat melakukan sesuatu untuk pertama kalinya. 🙂
